STRUKTUR DATA QUEUE

PENGERTIAN

Struktur Data Queue – (antrian) adalah struktur data yang berfungsi untuk menyimpan elemen-elemen yang di urutkan berdasarkan prinsip “first in, first out” (FIFO). Elemen yang pertama kali di masukkan ke dalam antrian akan pertama kali juga di keluarkan dari antrian. dapat di kategorikan sebagai cara mengelola queue agar setiap lonjakan kebutuhan bandwidth atau burst dapat di atur dan di kelola sehingga koneksi jaringan internet tetap berjalan dengan baik.

Sebagai catatan, queue harus di atur dalam waktu singkat agar mampu menangani burst. Jika durasi waktu terlalu lama, dapat mengakibatkan ada paket data yang di buang. Pada perangkat switch dan router, sudah di lengkapi deng interface seperti berikut.

dalam berbagai situasi, seperti pemrosesan antrian dalam sistem operasi, pengantrian di bank, pemrosesan permintaan dalam jaringan komputer, dan lain-lain. Queue dapat di implementasikan dengan menggunakan array atau linked list.

Jenis- Jenis Struktur Data Queue

Ada beberapa jenis struktur data queue yang umum di gunakan, di antaranya :

  • Queue Statis: Queue ini di definisikan dengan ukuran yang tetap, sehingga tidak dapat di tambah atau di kurangi elemennya.
  • Queue Dinamis: Queue ini di definisikan dengan ukuran yang dapat berubah sesuai dengan jumlah elemen yang di tambahkan atau di keluarkan.
  • Queue Circular: Queue ini menggunakan array yang dapat di ulang-ulang, sehingga ketika pointer head atau tail mencapai ujung array, maka pointer akan kembali ke awal array.
Queue Circular
  • Priority Queue: Queue ini menyimpan elemen dengan prioritas tertentu, sehingga elemen dengan prioritas tertinggi akan di keluarkan lebih dahulu.
Priority Queue
  • Double Ended Queue (Dequeue): Queue ini memungkinkan elemen di tambahkan atau di keluarkan dari kedua ujung, sehingga dapat di gunakan sebagai antrian atau stack.
Double Ended Queue

Queue Berdasarkan Konfigurasinya pada Perangkat Berdasarkan sisi konfigurasi pada perangkat, queue dapat out data selector bertugas menerima input data digital dan salah satu dari input untuk kemudian dari sisi output an sektor yang di pilih. di bagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai berikut.

a. Software queue merupakan metode konfigurasi queue yang di lakukan dari sisi aplikasi tanpa terbatas pada jenis hardware, misalnya instalasi MikroTikOS pada komputer. Metode yang di gunakan dapat berupa FIFO, WRR, LLQ, HTB, dan CBWFQ.

b. Hardware queue sangat di pengaruhi oleh spesifikasi interface yang di gunakan. Jika hardware queue berukuran kecil, akan muncul masalah latency pada pengiriman paket. Namun, jika hardware queue terlalu besar, dapat menimbulkan kemungkinan paket data tidak dapat masuk ke software queue yang berdampak pada jitter. Jenis ini sering di sebut dengan transmit queues atau di singkat TxQ.

Metode Struktur Data Queue

FIFO atau First-In First-Out FIFO

adalah jenis queue paling sederhana dengan setiap paket yang memasuki pertama kali akan keluar lebih dulu. Berikut adalah beberapa ciri khas metode FIFO.

1)Lebih cepat menangani paket.

2)Lebih sederhana metodenya karena mengabaikan jenis layanan yang di lewatkan oleh queue (classification).

3)Buffer yang di atur dapat di gunakan untuk beragam jenis paket data.

4) Terjadinya congestion cukup susah di prediksi.

5) Karena menggunakan sebuah buffer untuk menangani semua paket data, kemungkinan besar akan timbul delay.

6) Di karenakan besar paket melebihi ukuran buffer, sering kali paket data akan di buang atau di drop.

7) Jika terdapat dua aliran paket data dari inbound interface yang di tujukan melewati sebuah outbound interface, router akan menggabungkannya menggunakan multiplexer.

Priority queueing Tipe queue

ini menerapkan mekanisme pengelompokan paket berdasarkan level prioritas pada setiap paket yang akan di lewatkan. Sebagai contoh, sistem akan menetapkan paket UDP yang di anggap sebagai paket dengan level tertinggi karena tidak akan mengirimkan ulang paketnya ketika terputus, berbeda dengan protokol TCP. Metode ini akan menyertakan modul output queue dalam pengaliran data berbasis multiple FIFO setelah paket di bagi atau mengalami proses classification.

Kekurangan metode ini adalah jika router menemukan dua jenis paket berbeda, misalnya yang satu bersifat high level packet, sedangkan yang lainnya low level packet atau paket dengan prioritas rendah. Queue akan selalu mendahulukan paket berprioritas tinggi hingga transmisi data selesai. Kondisi tersebut dapat berlanjut hingga di buangnya paket dengan prioritas rendah. Kekurangan metode priority queueing yang mengabaikan paket berprioritas rendah menjadikan tipe ini jarang di pakai.

CBQ atau Class Based Queueing

Metode CBQ merupakan perbaikan dari metode priority queueing. Metode ini mengklasifikasikan paket (tinggi dan rendah) serta mendahulukan setiap paket data berprioritas tinggi. Selain itu, Class Based Queueing juga akan memproses paket yang memiliki prioritas rendah dengan cara mengacaknya menggunakan algoritme round robin. CBQ pun bukan metode yang sempurna karena tidak terlalu memperhatikan jaminan sesi komunikasi yang terjadi antara sender dan receiver sehingga berpotensi mengganggu sesi komunikasi user lainnya.

Fair queueing

Kekurangan pada CBQ di perbaiki dengan di kembangkannya classification, fair queueing juga menerapkan pemisahan jenis trafik data dengan melihat aliran paket data berdasarkan informasi port number yang di jalankan dan IP address. Pada fase selanjutnya, pemrosesan queue di acak menggunakan round robin Arti Kata Congestion adalah perlambatan yang terjadi pada jalur paket- paket data yang di akibatkan banyaknya beban pada network sehingga performa menurun atau lambat karena jumlah data melebihi kapasitas router yang sudah di sediakan sama seperti CBQ

RED atau Random Early Drop

Tujuan utama dari metode RED adalah mencegah timbulnya kondisi congestion dengan cara mengatur dan mengendalikan ukuran setiap queue yang di bentuk. Untuk mengendalikan queue, RED menggunakan dua parameter penting, yaitu sebagai berikut :

 1) Minimum threshold

Jika ukuran paket tidak lebih kecil dari minimum threshold, paket tidak akan di drop.

2) Maximum threshold

Jika ukuran paket melebihi kapasitas queue, paket akan di drop.

Lalu apa yang terjadi jika ukuran paket berada di antara ambang atas dan bawah? RED akan menganggapnya sebagai kondisi congestion dan mulai menghapus paket tersebut secara acak (kondisi ini di sebut dengan early).

SFQ (Stochastic Fairness Queueing)

Teknik SFQ menggunakan kombinasi mekanisme classification untuk di bagi menjadi beberapa subqueue, memanfaatkan algoritme hashing dan teknik FIFO dalam memproses subqueue tersebut. Selanjutnya, paket data yang telah di pilah akan di tentukan mana yang akan lebih dahulu di keluarkan memakai algoritme round robin. Jumlah subqueue yang di sediakan dalam SFQ adalah 1024 dan mempunyai kelemahan dalam penyediaan queue setiap packet flow yang di tanganinya.

HTB (Hierarchical Token Bucket)

Di terapkan dalam router, khususnya-MikroTikOS dalam Jenis HTB merupakan metode queue yang paling sering kepanjangannya, Hierarchical Token Bucket dapat di artikan menangani masalah pengaturan manajemen bandwidth. Dari bahwa queue menggunakan filosofi bucket (ember) dan token (koin) yang di susun secara hierarkis.

Analogi kerjanya adalah sebagai berikut.

1) Setiap paket data yang terkirim akan di tampung dalam ember atau bucket (anggap saja sebagai queue).

2) Paket data yang di tampung tersebut memiliki token yang merepresentasikan byte data yang fungsinya sebagai pengatur waktu data akan di alirkan keluar dari bucket dengan durasi waktu yang telah di tentukan berdasarkan mekanisme FIFO.

Operasi Dasar Struktur Dasar Queue

Operasi dasar yang umum di lakukan pada queue adalah:

  • Enqueue: Menambah elemen baru ke dalam queue di ujung belakang (tail).
  • Dequeue: Mengeluarkan elemen dari queue di ujung depan (head).
  • Peek: Melihat elemen paling depan dari queue tanpa mengeluarkannya.
  • isEmpty: Mengembalikan true jika queue kosong, false jika tidak.
  • isFull: Mengembalikan true jika queue sudah penuh, false jika tidak.
  • Size: Mengembalikan jumlah elemen yang ada dalam queue.
  • Clear: Menghapus semua elemen dalam queue.

Beberapa implementasi queue tidak menyediakan operasi size dan clear, karena itu tergantung pada implementasi dan kebutuhan dari sistem yang di gunakan.

Fungsi Struktur Dasar Queue

Queue di gunakan untuk menyimpan dan mengelola data secara berurutan berdasarkan prinsip First In First Out (FIFO). Fungsi-fungsi utama dari queue adalah:

  • Antrian (Queueing): Queue di gunakan untuk menyimpan data dalam bentuk antrian, seperti pada sistem antrian pembayaran, antrian pelayanan konsumen, dll.
  • Scheduling: Queue di gunakan dalam sistem scheduling untuk menentukan urutan proses yang akan di eksekusi oleh sistem operasi.
  • Memory Management: Queue di gunakan dalam sistem pengelolaan memori untuk menentukan urutan memori yang di gunakan dan di keluarkan.
  • Breadth-First Search: Queue di gunakan dalam algoritma Breadth-First Search untuk menyimpan node yang akan di kunjungi dalam graf.
  • Shortest Path: Queue di gunakan dalam algoritma Shortest Path untuk menyimpan node yang akan di kunjungi dalam graf.
  • Web Crawler: Queue di gunakan dalam web crawler untuk menyimpan URL yang akan di kunjungi dalam proses crawling.
  • Resource Allocation: Queue di gunakan dalam sistem pengelolaan sumber daya untuk mengatur dan mengalokasikan sumber daya seperti memori, bandwidth, dll.
  • Buffer Management: Queue di gunakan dalam sistem pengelolaan buffer untuk mengatur aliran data masuk dan keluar dari buffer.
  • Network Management: Queue di gunakan dalam sistem pengelolaan jaringan untuk mengatur aliran data dari satu node ke node lainnya.
  • Data Backup: Queue di gunakan dalam sistem backup data untuk menyimpan data yang akan di backup dan menentukan urutan backup data.
  • Multi-Threading and Concurrency: Queue di gunakan dalam sistem multi-threading dan konkurensi untuk mengatur urutan eksekusi dan sinkronisasi thread.
  • Other Applications: Queue di gunakan dalam berbagai aplikasi lain seperti sistem pengelolaan event, manajemen konfigurasi, dll.

Karakteristik Struktur Data Queue

  1. First In First Out (FIFO): Elemen yang pertama kali di tambahkan ke dalam queue akan menjadi elemen yang pertama kali di keluarkan.
  2. Linear : Elemen dalam queue di atur secara linear, sehingga hanya ada satu elemen di depan dan satu elemen di belakang.
  3. Dynamic size: Ukuran queue dapat berubah sesuai dengan jumlah elemen yang di tambahkan atau di keluarkan.
  4. Limited: Queue memiliki batas kapasitas yang di tentukan, sehingga tidak dapat menampung elemen yang terlalu banyak.
  5. Pointer: Queue menggunakan pointer untuk menunjuk elemen di depan dan di belakang queue.
  6. Access: Elemen yang ada dalam queue hanya dapat di akses dari ujung depan saja, yang di sebut head.
  7. Addition/Deletion: Elemen dapat di tambahkan pada ujung belakang (tail) dan di keluarkan dari ujung depan (head) saja.
  8. Non-circular: Dalam beberapa implementasi, queue dapat di gunakan sebagai linear data structure, yang berarti setelah elemen paling belakang di keluarkan, elemen tidak akan kembali ke posisi pertama. Namun, ada juga implementasi queue yang menjadi circular, yang berarti setelah elemen paling belakang di keluarkan, elemen akan kembali ke posisi pertama.
  9. Single ended: Dalam beberapa implementasi, queue hanya memiliki satu ujung untuk menambah atau mengeluarkan elemen. Namun, ada juga implementasi queue yang di sebut Double Ended Queue (Dequeue) yang memiliki dua ujung untuk menambah atau mengeluarkan elemen.
  10. Prioritization: Dalam beberapa implementasi, queue menyimpan elemen dengan prioritas tertentu, sehingga elemen dengan prioritas tertinggi akan di keluarkan lebih dahulu.

Kelebihan Struktur Data Queue

  1. Efisiensi: Queue memungkinkan akses yang cepat dan efisien ke elemen yang ada dalam queue.
  2. Scalability : Queue dapat di gunakan dalam berbagai skala aplikasi, mulai dari sistem kecil hingga sistem besar.
  3. Flexibilitas : Queue dapat di gunakan dalam berbagai jenis aplikasi seperti antrian, scheduling, memory management, dll.
  4. Sinkronisasi: Queue dapat di gunakan untuk mengatur sinkronisasi antara thread atau proses yang berjalan secara bersamaan.
  5. Prioritization: Queue dapat di gunakan untuk menentukan prioritas dari elemen yang ada dalam queue.
  6. Extensibility: Queue dapat di implementasikan dengan berbagai cara seperti array, linked list, dll.
  7. Pemodelan: Queue dapat di gunakan untuk memodelkan situasi nyata seperti antrian pembayaran, antrian pelayanan konsumen, dll.
  8. Memory management : Queue dapat di gunakan dalam memory management untuk mengatur alokasi memori secara efisien.
  9. Resource allocation : Queue dapat di gunakan dalam resource allocation untuk mengalokasikan sumber daya secara efisien.
  10. Network management : Queue dapat di gunakan dalam network management untuk mengatur aliran data dari satu node ke node lainnya.
  11. Breadth-First Search and Shortest Path: Queue dapat di gunakan dalam algoritma Breadth-First Search dan Shortest Path untuk menyimpan node yang akan di kunjungi dalam graf.
  12. Web Crawler: Queue dapat di gunakan dalam web crawler untuk menyimpan URL yang akan di kunjungi dalam proses crawling.
  13. Data Backup : Queue dapat di gunakan dalam sistem backup data untuk menyimpan data yang akan di backup dan menentukan urutan backup data.

Kekurangan Struktur Data Queue

  1. Kapasitas yang terbatas, yang berarti jika antrian penuh, tidak ada item yang dapat di tambahkan.
  2. Akses yang terbatas hanya pada elemen depan dan belakang saja.
  3. Proses pencarian elemen spesifik dapat menjadi rumit dan memakan waktu jika ukuran antrian besar.
  4. Memerlukan banyak memori jika ukuran antrian besar.
  5. Pemrosesan elemen dalam antrian selalu di kerjakan secara berurutan, yang berarti jika elemen yang di butuhkan berada di tengah-tengah antrian, maka harus menunggu sampai elemen tersebut sampai pada depan antrian.
  6. Antrian statis (yaitu antrian yang tidak dapat di ubah ukurannya setelah di definisikan) mungkin tidak fleksibel untuk situasi yang memerlukan ukuran antrian yang berubah-ubah.
  7. Alokasi memori yang tidak efisien, karena harus meninggalkan elemen kosong di antara elemen yang di gunakan untuk mengizinkan penambahan elemen baru.

Contoh Struktur Data Queue

Contoh aplikasi struktur data queue dapat di temukan dalam berbagai bidang, seperti:

  1. Sistem antrian pelayanan: Seperti antrian di bank atau kantor pos, di mana pelanggan harus menunggu gilirannya untuk melakukan transaksi.
  2. Sistem operasi : Dalam pengelolaan proses, sistem operasi menggunakan antrian untuk mengatur prioritas proses yang akan di eksekusi.
  3. Jaringan komputer: Dalam jaringan komputer, antrian di gunakan untuk mengatur paket data yang akan di kirimkan melalui jaringan.
  4. Sistem pemesanan tiket: Sistem pemesanan tiket menggunakan antrian untuk mengatur pemesanan tiket dari berbagai pengguna.
  5. Sistem print : Dalam sistem print, dokumen yang akan di cetak di urutkan dalam antrian untuk di proses secara berurutan.

Itu hanyalah beberapa contoh dari banyak aplikasi struktur data queue dalam dunia nyata. Secara umum, struktur data queue adalah struktur data yang di gunakan untuk menyimpan dan mengatur data dengan prinsip “first in, first out” (FIFO). Queue sangat berguna dalam aplikasi yang menangani antrian, seperti sistem pelayanan, pengelolaan proses, jaringan komputer, dan lainnya.

Namun, queue juga memiliki beberapa kekurangan, seperti kapasitas yang terbatas, akses yang terbatas, dan proses pencarian yang rumit. Namun demikian, Queue merupakan salah satu struktur data yang penting dalam dunia komputer dan teknologi.

Pengertian Simple Queue

Simple Queue adalah salah satu metode untuk melimit bandwidth yaitu dengan cara membagi bandwidth dari skala kecil sampai menengah.

Simple Queue di gunakan untuk mengatur bandwidth upload dan download tiap user. Jadi admin dapat melimit target user tertentu menggunakan ip address. Selain Ip Address Network address dan interfaces jaringan dapat di atur bandwidth nya menggunakan Simple Queue. Baca Artikel Sains dan Teknologi lainnya.

Simple Queue dapat melimit Upload dan Download secara terpisah, dalam arti lain seorang admin dapat mengatur kecepatan download dan upload sendiri secara berbeda.

Cara Kerja Simple Queue

  • Setiap antrian akan di proses sesuai aturan mula dari yang paling atas sampai yang paling bawah
  • Mengatur aliran paket data secara 2 arah atau bidirectional
  • Membatasi trafik berdasarkan IP Address
  • Satu antrian dapat membatasi trafik 2 arah sekaligus ( Upload / Download )
  • Simple Queue akan di proses lebih dulu di bandingkan Queue Tree, jika di gunakan secara bersamaan
  • Mnedukung penggunaan PCQ sehingga dapat membagi bandwidth secara merata
  • Menerapkan antrian yang di tandai melalui paket di firewall mangle
  • Pengaturannya sederhana dan statis

Pengertian Queue Tree

Queue Tree adalah salah satu di tur management bandwidth di mikrotik yang sangat fleksible dan cukup komplek. Kebutuhan Queue lebih detail berdasarkan service, Bottom of Form

Queue Tree menggunakan fitur Firewall Mangle untuk menentukan trafik yang akan di limit. Queue Tree biasanya di pakai pada warnet untuk menentukan antara trafik yang di gunakan untuk game online dan browsing di internet. Apa itu Mangle ? Mangle fitur dari mikrotik yang di gunakan untuk menandai koneksi maupun paket dari trafik data yang melewati router.

Karena permasalahannya ketika dalam satu jaringan menggunakan 2 akses atau lebih yang berbeda seperti game online dan browsing maksa akan mengganggu satu sama lain. perlu di lakukan manajemen bandwidth untuk mengatasi problem tersebut.

HTB (Hierarchical Token Bucket)

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, HTB merupakan salah satu jenis queue yang menggunakan filosofi bucket (ember) dan token (koin) yang di susun secara hierarki. Ketika Anda menggunakan metode queue berbasis software dengan MikroTikOS, Anda dapat menggunakan dua jenis metode, yaitu sebagai berikut.

Rate Equalizing atau Scheduler

Jika paket data yang melewati interface melebihi kapasitas yang di tentukan oleh queue, sisa paket akan di simpan terlebih dahulu dalam queue sampai keadaan memungkinkan untuk mengirimkan kelebihan paket data tersebut. Tipe ini mempunyai beberapa metode queue, antara lain sebagai berikut :

1.HTB (Hierarchical Token Buckets).

2.PCQ (Per Connection Queueing).

Rate Limiting atau Shapper

Pada tipe ini, jika kapasitasnya melebihi kapasitas yang telah di atur sebelumnya, paket data akan di buang atau di drop. Sementara itu, rate limiting memiliki beberapa metode, antara lain sebagai berikut.

a. FIFO dengan beberapa jenis kandungan informasi seperti bytes FIFO. Paket FIFO itu sendiri di sertai dengan Multi- Queue FIFO Packets.

b. SFQ atau Stochastic Fairness Queueing.

C. RED atau Random Early Detection.

Metode HTB

Pada MikroTikOS versi 5 atau RouterOS v5, queue dengan metode HTB memiliki empat tipe interface yang akan di lewati oleh paket, antara lain sebagai berikut :

  1. Global-In, merupakan virtual interface pada HTB yang akan menerapkan queue pada setiap paket data yang di terima oleh router sebelum menerima perlakukan filtering.
  2. Global-Out adalah interface HTB yang akan memberlakukan queue pada setiap paket data yang di transmisikan setelah melewati proses filtering.
  3. Global-Total adalah interface HTB yang bekerja secara virtual dengan melakukan manajemen bandwidth yang terhitung sebagai nilai akumulasi rata-rata antara upload dan download. Oleh karena itu, dapat di katakan interface ini merupakan kombinasi Global-In dan Global-Out.
  4. Outgoing Interface adalah interface HTB yang secara fisik paket yang akan di kirimkan ke jaringan akan melewati interface ini.

Metode HTB

Sementara itu, pada RouterOS v6, keempat, interface tersebut tidak lagi di gunakan. Pada versi 6 ini, MikroTik akan melakukan queue melalui tiga interface, yaitu sebagai berikut.

1. Global adalah jenis virtual interface dalam HTB yang memberlakukan queue pada paket data yang akan keluar router dan telah melewati proses paket filtering.

2. Simple Queue adalah interface yang secara khusus di ciptakan pada OS versi 6.

3. Outgoing Interface memiliki fungsi sama seperti pada RouterOS v5, yaitu sebagai interface fisik, setiap paket data yang keluar akan melewati interface ini.

Untuk melakukan pengaturan manajemen bandwidth dengan hardware queue, Anda dapat memilih menu Queue – klik Interface Queue.

Interface queues

Perlu di pahami, bahwa kemampuan melakukan queue pada setiap interface hanya sebesar 100 paket selama terjadi congestion.

queue types

Ketika Anda membangun manajemen bandwidth dengan metode Queue Tree, ada tiga jenis parameter yang harus Anda ketahui dan persiapkan, antara lain sebagai berikut :

  1. Parent Parent adalah parameter yang harus di isi dengan tipe outgoing interface yang akan di lewati oleh data.
  2. Packet Mark Packet mark merupakan definisi jenis paket yang telah di tandai agar di kenali oleh proses filter dengan menerapkannya pada IP Firewall Mangle MikroTik.
  3. Max-limit Max-limit merupakan batas kecepatan yang dapat di lalui oleh paket data atau sering di kenal dengan isitilah MIR (Maximum Information Rate).
  4. CIR (Committed Information Rate) adalah parameter yang menentukan kondisi komputer klien dapat menerima besaran minimal alokasi bandwidth tanpa terpengaruh keadaan apa pun dengan catatan bahwa alokasi bandwidth masih tersedia.

PCQ (Per Connection Queueing)

Ketika Anda membangun sebuah jaringan yang menghubungkan komputer klien dengan internet, router MikroTik menjadi pusat pengendali dan penjamin kualitas koneksi. Dengan teknik manajemen bandwidth yang baik, akan meminimalisasi terjadinya delay atau user mengeluh internet lambat. Hal tersebut dapat diatasi ketika jumlah klien dalam jaringan sudah ditetapkan dengan pasti. Namun, bagaimana jika ternyata jaringan tersebut bukan hanya untuk konsumsi internal perusahaan saja? Sebagai contoh, terdapat beberapa hotspot yang menyediakan akses internet yang terpasang pada suatu area dan ruangan untuk memudahkan setiap user. Kondisi tersebut mengakibatkan jumlah pengguna akan bertambah dan berkurang secara tidak pasti.

Keadaan tersebut membuat administrator jaringan mengalami kesulitan untuk mengatur bandwidth, baik itu CIR maupun MIR. Solusi yang dapat dilakukan adalah menerapkan teknik PCQ atau Per Connection Queueing. Dengan PCQ, Anda tidak perlu memikirkan cara mengonfigurasi leaf queue dan alokasi CIR ataupun MIR.

Metode PCQ merupakan perbaikan dari mekanisme SFQ atau Stochastic Fairness Queueing meski masih memakai teknik pembuatan substream atau subqueue. Penggunaan algoritme pada SFQ masih berbasis Hash yang berperan sebagai classifier. Sementara itu, pada PCQ Anda bebas memilih jenis parameter yang akan digunakan untuk menjadi classifier, antara lain src- address, dst-address, src-port, dan dst-port.

Pada saat ada transmisi paket menuju mekanisme sistem PCQ, paket akan dikelompokkan berdasarkan classifier grouping menggunakan parameter src-address, dst-address, src-port, atau dst-port. Anggap saja classifier yang dikerjakan berdasarkan parameter alamat sumber pengirim atau src-address. Oleh karena itu, diperlukan beberapa substream (FIFO pertama, FIFO kedua, dan seterusnya) masing-masing substream dapat diterapkan metode queue FIFO yang memiliki batas alokasi bandwidth sendiri-sendiri. Sebelum dikirim keluar, setiap substream akan dipersatukan kembali pada bagian TOTAL FIFO.

Tinggalkan Komentar