Pengertian CIDR
Perhitungan CIDR – CIDR adalah cara penulisan subnet mask dari sebuah sub network dengan cara mengubah notasi sub network dari desimal ke biner kemudian menghitung jumlah total nilai biner 1 yang ada. CIDR merupakan cara pengganti atau alternatif dalam klasifikasi alamat IP kelas A, B, C, D, hingga E. CIDR juga di sebut sebagai SUBNETTING .
Apa yang di maksud dengan CIDR? CIDR (Classless Inter-Domain Routing) adalah sebuah cara alternatif untuk pengelompokan alamat-alamat IP yang berbeda ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E dengan jumlah yang lebih kecil (subnetwork/subnetmask) di sebut juga sebagai Subnetting. Tujuan dari subnetting yaitu :
- Untuk mempercepat pengiriman data, karena host berada dalam satu segmen jaringan dengan host yang ingin dikirim datanya.
- Membagi satu kelas (misalkan kelas C) atas sejumlah subnetwork dalam artian membagi kelas C menjadi beberapa bagian yang lebih kecil (skala kecil).
- Menempatkan suatu host, apakah dalam satu segmen jaringan atau tidak.
- Untuk mengatasi masalah perbedaan hardware dengan topologi fisik jaringan.
- Memaksimalkan penggunaan IP Address secara efisien, dalam artian agar tidak ada IP yang tidak terpakai di karenakan kelebihan host.
CIDR digunakan untuk mempermudah penulisan notasi subnet mask agar lebih ringkas di bandingkan penulisan notasi subnet mask yang sesungguhnya. Untuk penggunaan notasi alamat CIDR Classfull Address pada kelas A adalah /8 sampai dengan /15, kelas B adalah /16 sampai dengan /23, dan kelas C adalah /24 sampai dengan /30.
Menentukan notasi CIDR
Langkah – langkah untuk mengubah notasi sub network desimal menjadi biner adalah sebagai berikut :
Misal pada sub network Classfull IP Address kelas C adalah :
255.255.255.0
maka apabila nilai 255 di ubah menjadi bilangan biner (8 oktet) adalah :
11111111
Maka untuk sub network kelas C apabila di tuliskan dalam bentuk binernya adalah :
11111111. 11111111. 11111111.00000000
Dengan demikian, dengan jumlah angka 1 sebanyak 24.
Maka notasi sub network kelas C pada CIDR di tuliskan dalam /24 (terdapat 24 biner 1).
Tabel Notasi CIDR
Berikut adalah contoh notasi CIDR dalam bentuk tabel :

Pengertian VLSM (Variable Length Subnet Mask)
VLSM singkatan dari Variable Length Subnet Mask, terjadi ketika desain subnet menggunakan beberapa topeng dalam jaringan yang sama. Artinya lebih dari satu mask di gunakan untuk berbagai subnet jaringan atau satu kelas A, B, C.
VLSM setara dengan subnetting subnet, yang berarti bahwa VLSM memungkinkan insinyur jaringan untuk membagi ruang alamat IP menjadi hierarki subnet dengan ukuran berbeda. Jadi VLSM memungkinkan insinyur jaringan untuk membuat subnet dengan jumlah host yang bervariasi dengan hanya sejumlah kecil alamat yang terbuang.
VLSM di gunakan untuk meningkatkan ketersediaan subnet karena ukuran subnet dapat bervariasi. Hal ini juga di definisikan sebagai proses subnetting untuk subnet.
Ada 2 teknik perhitungan subnetting:
- FLSM: fixed length subnet mask. Satu network, kita pecah-pecah menjadi beberapa network (subnet) di mana setiap lebar subnet yang satu sama dengan lebar subnet yang lainnya.
- VLSM: variable length subnet mask. Kebalikannya, sebuah network yang kita subnet, menghasilkan subnet-subnet yang berbeda panjang subnet masknya antara subnet satu dengan yang lain.
FLSM (Fixed Length Subnet Mask)
FLSM adalah teknik pembagian network yang mana setiap subnet memiliki ukuran subnetmask yang sama. Variable Length Subnet Mask, VLSM adalah teknik pembagian network yang mana setiap subnet memiliki ukuran subnetmask yang berbeda tergantung jumlah host yang ada di network tersebut.
VLSM VS FLSM
- Subnet: Dalam VLSM, ukuran subnet bervariasi dengan jumlah host yang bervariasi, membuat pengalamatan IP lebih efisien. Tetapi di FLSM, semua subnet berukuran sama dengan jumlah host yang sama.
- Pemborosan alamat IP: VLSM membuang lebih sedikit alamat IP daripada FLSM.
- Alamat IP yang sesuai: VLSM adalah pilihan terbaik untuk alamat IP publik, sedangkan FLSM adalah pilihan pertama untuk alamat IP pribadi.
- Penggunaan subnetmask: VLSM menggunakan berbagai subnet mask, sedangkan FLSM menggunakan mask yang sama.
- Konfigurasi dan manajemen: VLSM sederhana dalam konfigurasi dan manajemen, tetapi FLSM rumit.
- Protokol perutean: VLSM mendukung protokol perutean tanpa kelas, sementara FLSM mendukung protokol perutean tanpa kelas dan kelas.
Contoh Soal
Network Address : 192.168.1.0/26
Hitunglah :
1. Jumlah Subnet
2. Jumlah Host per Subnet
3. Blok Subnet
4. Alamat host dan broadcast
Jawab
Ubah dulu /26 menjadi desimal :
/26 = 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192)
Jumlah Subnet = 2(pangkat)x = 2X
di mana X adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, 3 Oktet terakhir untuk kelas A)
jadi :
22= 4Subnet
2.Jumlah host per subnet = 2(pangkat)y – 2 = 2y – 2
di mana Y adalah kebalikan dari X yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet.
jadi
26 – 2 = 62 Host
3. Blok Subnet = 256 – oktet terakhir subnet (256 adalah total host 254 + total network 1 + total broadcast 1)
jadi :
256 – 192 = 64 blok subnet
blok berikutnya di tambah dengan 64 yaitu 64+64=128, 128+64=192 (habis karena sudah sampai oktet terakhir subnet 192)
blok subnet lengkapnya = 0, 64. 128, 192
4. Alamat host dan broadcast = sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angkan sebelum subnet berikutnya.
| Subnet | 192.168.1.0 | 192.168.1.64 | 192.168.1.128 |
| Host Pertama | 192.168.1.1 | 192.168.1.65 | 192.168.1.129 |
| Host Terakhir | 192.168.1.62 | 192.168.1.126 | 192.168.1.191 |
| Broadcast | 192.168.1.63 | 192.168.1.127 | 192.168.1.192 |