NGINX WEB SERVER

NGINX

NGINX adalah kependekan dari eNgine X merupakan salah satu kompetitor web server Apache yang saat ini merajai dunia Web. Aplikasi berbasis open source yang dikembangkan oleh Igor Syssoev tahun 2002, awalya ditujukan untuk memberikan solusi terhadap sistem koneksi C10K atau kondisi saat server meng-handle sepuluh ribu koneksi.

Meski diumumkan dan dirilis tahun 2004 engan teknologi asynchronous dengan arsitektur event driven, namun telah memperoleh respons baik dari para penggunanya. Kelebihan dibandingkan dengan apache adalah ringan dan dapat bekerja dengan spesifikasi hardware yang relatif renadah (minim)

Cara Kerja NGINX

Seperti yang sudah disinggung di bagian sebelumnya, yang ditawarkan web server Nginx adalah penggunaan memori yang kecil dengan konkurensi yang tinggi. Jadi, Nginx tidak membuat proses baru ketika ada permintaan (web request), tapi ditangani di dalam satu thread (asynchronous dan pendekatan event-driven).

Jika menggunakan Nginx, satu proses utama (master process) dapat mengontrol berbagai proses lainnya (worker process). Jadi proses utama tetap menjalankan tugasnya sambil mengontrol proses lain yang ada di bawahnya. Karena Nginx menggunakan asynchronous, setiap web request dapat dieksekusi oleh proses lain tanpa mengganggu web request lainnya.

Fitur NGINX

web server Nginx juga mempunyai beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung performa web server yang andal seperti:

  1. Reverse proxy dengan proses cache
  2. Dukungan IPv6
  3. Load balancing
  4. Dukungan FastCGI dengan proses cache
  5. WebSockets
  6. Menangani file statis, file index, dan auto-indexing
  7. TLS/ Sertifikat SSL dengan SNI (Server Name Indication)

Kelebihan

  1. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
    Software ini relatif ringan. Ketika menjalankan tugasnya, aplikasi ini tidak memakan banyak resource. Dengan arsitektur asynchronous event driven-nya, penggunaan RAM akan lebih efisien.
  2. Multifungsi
    Aplikasi ini bisa menjalankan banyak peran, tidak hanya sebagai web server. Kami sudah menjelaskannya fungsi-fungsi lainnya di atas. Semua fungsi tersebut terpusat dalam satu aplikasi. Anda bisa lebih mudah melakukan pemantauan dan pengelolaan. Selain itu, Anda tidak perlu mengelola tools tambahan dari luar.
  3. Keamanan
    Tim developer dari aplikasi ini secara teratur melakukan update security patches. Risiko untuk terkena serangan DDoS sangat kecil. Sistem keamanannya cukup andal bahkan dalam setup default.
  4. Performa
    Secara performa, aplikasi ini cukup unggul dari kompetitornya. Secara statistik, aplikasi ini hanya kalah dari Cloudflare. Seperti yang dijelaskan di atas, berkat arsitektur event driven-nya, aplikasi ini tetap andal dan stabil dalam menangani traffic tinggi di satu waktu.

Kekurangan

  1. Kompatibilitas
    Sebenarnya aplikasi ini sudah compatible dengan berbagai sistem operasi, baik itu yang berbasis Unix maupun Windows. Sayangnya, performanya di OS Windows sedikit kurang oke, tidak seperti di OS lainnya. Aplikasi ini juga belum kompatibel dengan beberapa OS, misalnya: IBM i, z/OS, eComStation, dan OpenVMS.
  2. Minimnya Dukungan Komunitas
    Sebenarnya pihak Nginx sudah menyediakan serangkaian dokumentasi dan tutorial untuk membantu para user-nya. Tapi karena penggunanya yang masih sedikit, dukungan komunitas sangatlah minim. Jadi, beberapa isu masih belum bisa tertangani dengan baik.
  3. Kurang Fleksibel
    Modul dan add-ons pada aplikasi ini juga sangat minim. Di sini, Anda bahkan tidak bisa melakukan kustomisasi melalui .htaccess tool. Hal-hal itu jadi alasan mengapa aplikasi ini terasa kurang fleksibel.

NGINX VS APACHE

berikutini adalah hal yang dapat membedakan antara NGINX dengan APACHE

  1. Dukungan OS (Sistem Operasi)
    Kompatibilitas adalah salah satu poin yang harus Anda pertimbangkan ketika memilih software. Baik NGINX maupun Apache, kedua server tersebut bisa dijalankan di berbagai sistem operasi yang mendukung sistem Unix. Sayangnya, performa NGINX di Windows tidak sebagus jika diaktifkan di platform lain
  2. User support
    User, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, selalu membutuhkan panduan dari komunitas online yang besar dan solid bilamana mereka menemui hambatan atau masalah. Meskipun NGINX dan Apache sama-sama dilengkapi dengan mailing support dan forum Stack Overflow, Apache tidak punya fitur bantuan pelanggan yang seharusnya ditawarkan oleh perusahaannya, Apache Foundation.
  3. Performa
    bisa menjalankan 1000 koneksi konten statis di waktu bersamaan dengan kecepatan dua kali lebih tinggi dibandingkan Apache. Tak hanya itu, NGINX juga tidak menggunakan kapasitas memori yang berlebih. Jika membandingkan dua platform ini dari segi performa ketika menjalankan konten yang dinamis, baik NGINX maupun Apache memiliki kecepatan yang sama. Hanya saja, untuk website yang cenderung statis, NGINX adalah pilihan terbaik.

Tinggalkan Komentar